X
IN-TEA-MATE MOMENT (CASA IV/2017)
Menikmati secangkir teh adalah seremoni bagi sebagian orang.
Bagi kekaisaran Tiongkok tempo dulu hingga Kerajaan Inggris
saat ini, tradisi minum teh adalah momen untuk menikmati
salah satu komoditas favorit Bumi tersebut, baik untuk
acara resmi maupun sekadar menikmati petang. Bersama kemajuan
budaya maupun perspektif hidup manusia, kesempatan menikmati
teh mengalami pergeseran menjadi sebuah habit baru kaum urban.
Perubahan perspektif terhadap cara menikmati teh itu serupa dengan
fenomena kopi yang ada, di mana kedai-kedai kopi kini bermunculan
dengan konsep desain yang kurang lebih sama. Bersih, bersiku, simetris,
serba kayu, dan tentu saja photogenic.
Bila kopi kini digandrungi para free workers yang rela menghabiskan
waktu berjam-jam di coffee shop beradu wajah dengan laptop, kedai
teh pun turut memoles penampilannya. Ialah Lewis & Carroll Flower
Market, sebuah tea shop yang baru saja membuka gerai keduanya di
mal Grand Indonesia beberapa waktu lalu. Menempati salah satu sudut
di Central Department Store, kehadiran Lewis & Carroll Flower
Market seakan menjadi oase bagi para pengunjung mal yang ingin
meluangkan waktu berbincang hangat bersama kerabat atau sekadar
online menuntaskan pekerjaan.
Konsep desain yang digagas oleh Vindate sebagai konseptor
interiornya, Lewis & Carroll Flower Market terfokus pada fungsi
spasial tanpa mengenyampingkan nilai estetikanya. Mengambil bentuk
huruf L, tea shop ini mengantar flow pengunjung melalui serving area
di mana terdapat deretan bunga-bunga segar dari Atelier Fleuri. Sejak
awal memasuki Lewis & Carroll Flower Market, sentuhan Scandinavian
cukup kuat terasa dengan dominasi material kayu pada interiornya.

Deretan rak dengan tea storage berwarna bronze menjadi
penyambut manis di serving area. Keserasian untuk material kayu
juga terlihat pada table display dengan flower bins yang tertata rapi.
Saat melangkah pada dining area, tampak jejeran kursi, sofa, serta
meja panjang di ujung ruang. Sofa menempati ruang yang berbatasan
dengan area publik dengan railing kayu sebagai pembatas, sementara
round table dining dengan kapasitas dua sampai empat orang mengisi
bagian tengah, dan built-in sofa melekat pada dinding di area dalam
tea shop dengan meja panjang berpasangan bersama dining chair
yang ada di depannya.
Penekanan fungsi dengan pendekatan estetika menjadi keunikan
yang diterapkan oleh Vindate pada Lewis & Carroll Flower Market.
Kolom-kolom eksisting justru bukan menjadi kendala, alih-alih
digunakan sebagai lemari penyimpanan sekaligus bagian dari
service area bagi pramusaji. Begitu pula dengan dinding kayu di sisi
belakang tea shop yang difungsikan sebagai mini office serta ruang
cold storage untuk penyimpanan bunga di baliknya. Teknik kamuflase
untuk optimalisasi fungsi pada area publik yang digunakan sebagai
restoran maupun tea shop begitu tepat diterapkan.
Pada akhirnya, aktivitas sosial maupun individu bagi pengunjung
Lewis & Carroll Flower Market terjadi organik tanpa adanya
intimidasi ruang. Kesahajaan desain yang diaplikasikan oleh Vindate
amat selaras dengan kehangatan varian teh yang dimiliki Lewis &
Carroll Flower Market seperti Oolong atau Sencha. Tampil dengan
dua palet putih dan cokelat, Lewis & Carroll Flower Market layak
menjadi destinasi untuk berpaling sesaat dari hiruk pikuk mal kota
besar
Other News